Selasa, 05 Februari 2008

Phone







Ponsel itu terus bergetar.

Sudah aku set ke silent mode sih, tapi tentu saja getar-nya aku hidupkan.
Bodoh! Goblok! Kalo tak mau menerima telpon, sekalian saja jangan di aktifkan getarnya. Atau di off-in aja sekalian! Kan beres, Si logis di kepalaku ngedumel.

Tapi, di sudut hati terdalam ada keegoan seorang perempuan. Ingin melihat berapa kali dia menghubungi..
sejauh mana dia mencapaiku.

     Saat ini,  aku tengah duduk bersandar di tempat tidur dengan laptop di pangkuan, dan ponsel malang itu tergeletak di atas bantal. Kumiringkan sedikit kepala, lalu menjulurkan leher. Astaga! Sudah 22 kali miscal!
Tiba-tiba saja aku merasakan ironi, dan hal itu memicu rasa geli. Aku mulai terkekeh dan terus terkekeh sambil menutup mulut. Menatap kosong ke display laptop, terlintas dalam ingatan bagaimana dulu akulah yang melancarkan serangan miscal untuk menggapainya,  namun adakah dia peduli? Merde!

Kini saat aku menutup diri dari lembaran hidup yang mengantarku ke pembunuhan karakter; rasa putus asa yang membelit, cinta yang meluap namun tak diterima, dan sejuta perasaan rendah diri --atau direndahkan?--   barulah dia menoleh.
Mengapa sesuatu yang dulu mungkin akan sangat berarti jika dia melakukannya, kini baru terkabulkan bagiku?
Hidup jadi begitu menyebalkan, jika hal yang diharapkan baru terwujud saat kita tak lagi menginginkannya....

Kuhela nafas sambil meraih ponselku.
Dengan gelengan kepala kutekan tombol off.

Tidak ada komentar: