Kamis, 20 September 2012

T E R S E S A T



Terhenti di titik ini

Kala cuaca bermuram durja
Mendung menggayut langit,   bagai gadis manja
di lengan sang kekasih
merajuk
merengek


Mendongak
Kebiruan angkasa berlapis tirai kelabu
Awan belum lagi menghitam
namun tanda tangisannya terasa melayang


Terpapar arah simpang siur
Nanar menatap
naluri mengambang


Saat rinai memekik pilu
Langkah terayun dalam buta




Kamis, 07 Februari 2008

Sepenggal Tulisan

>>> aku selalu ingin menjadi dia
terlahir saat kuatnya menguasai hati <<<



Jam dua lebih tiga puluh tujuh menit dinihari, telepon berdering.
Dering pertama tentu saja tak kudengar, aku masih sibuk dengan mimpiku.
Kedua kalinya, aku mulai merasa ada yang mengusik ketenangan.
Yang ketiga, telingaku bagai dicubit tangan jahil.
Keempat, kubuka separoh mata untuk melihat di dunia mana aku berada, mengerjap-ngerjap, mengerutkan kening dengan kesal, lalu terdengarlah dering mengganggu itu.
Lagi.

Kuulurkan tangan dengan wajah terbenam di bantal, menjangkau ponsel yang berada dua bantal dari posisi kepalaku. Sebaiknya ini penting, Siapapun dikau!

“Apa…?” Jawabku dengan seketus yang dimungkinkan suara orang yang baru bangun.

“Gue cheating.”

“Congratulation. Bye.” Kuputuskan hubungan.

Treeeet! Treeeet!

“Plis go talking to any devil from hell now!” desahku kesal.

“Sedang gue lakukan, brengsek!”

“Sapaaa seeeh! Leave me aloneeeelyyy!” Aku tahu yang lagi nelpon ini Lanny. Benar-benar nggak tahu diri tuh mahluk!

“Gue mo curhat nih, Iblis!”

“Monyet jahanam, lo punya jam kagak?”

“Kagak! Lo bawa ke situ kan?”

“Fine! Kalo gitu yang cepet.”

Terdengar umpatan yang masih asli. “Lo iklas gak dengernya?”

“Gue sudah nggak sabar menunggu-nunggu curhat lo di waktu yang ideal ini! Nggak ada yang paling penting dalam hidup gue selaen menunggu laporan prestasi lo dalam bidang bitchy jam tiga pagi!” hebat, kalimat terpanjang dalam hidup gue lahir jam tiga pagi!

“Raaan…” Ia setengah meratap. “Gue cheating.”

“Update dulu! Itu sudah kadaluwarsa. Lo dah bilang itu!”

“Gue musti gimana nih?”

“Udah pasti tuh?”

“Iya. Udah gue terima, sebelum gue putusin Ega..” panik dia!

Rasain!

........................ to be continued............................

Selasa, 05 Februari 2008

Phone







Ponsel itu terus bergetar.

Sudah aku set ke silent mode sih, tapi tentu saja getar-nya aku hidupkan.
Bodoh! Goblok! Kalo tak mau menerima telpon, sekalian saja jangan di aktifkan getarnya. Atau di off-in aja sekalian! Kan beres, Si logis di kepalaku ngedumel.

Tapi, di sudut hati terdalam ada keegoan seorang perempuan. Ingin melihat berapa kali dia menghubungi..
sejauh mana dia mencapaiku.

     Saat ini,  aku tengah duduk bersandar di tempat tidur dengan laptop di pangkuan, dan ponsel malang itu tergeletak di atas bantal. Kumiringkan sedikit kepala, lalu menjulurkan leher. Astaga! Sudah 22 kali miscal!
Tiba-tiba saja aku merasakan ironi, dan hal itu memicu rasa geli. Aku mulai terkekeh dan terus terkekeh sambil menutup mulut. Menatap kosong ke display laptop, terlintas dalam ingatan bagaimana dulu akulah yang melancarkan serangan miscal untuk menggapainya,  namun adakah dia peduli? Merde!

Kini saat aku menutup diri dari lembaran hidup yang mengantarku ke pembunuhan karakter; rasa putus asa yang membelit, cinta yang meluap namun tak diterima, dan sejuta perasaan rendah diri --atau direndahkan?--   barulah dia menoleh.
Mengapa sesuatu yang dulu mungkin akan sangat berarti jika dia melakukannya, kini baru terkabulkan bagiku?
Hidup jadi begitu menyebalkan, jika hal yang diharapkan baru terwujud saat kita tak lagi menginginkannya....

Kuhela nafas sambil meraih ponselku.
Dengan gelengan kepala kutekan tombol off.

Senin, 04 Februari 2008

Aku Telah Mati

Aku telah mati!
Mati!


Tanda-tanda kehidupan meredup lalu....sshh! apinya menguap, mati!
Bagai lilin yang ditiup mulut-mulut usil iblis

Roh-ku terbang dalam gelap
Hidup yang nyata tak lagi tergenggam
Melintasi dimensi demi dimensi
Hingga tiba di kemayaan






Haaah...kepenatan menyelimuti
Hingga godaan tuk singgah begitu menggiurkan
Bahkan dalam mati pun roh-ku masih merasa capek? Astaga!


Whoaah.. dunia apa ini?
Aku serasa melihat mimpi
Apa bisa bermimpi dalam kematian?

Kalau untuk itu hidup bisa tergenggam, kenapa tidak?
Aku ingin bermimpi
Mimpi tentang hidup
Kalau itu bisa membuatku merasakan kehidupan

Aku mungkin.. mati!

Lalu bermimpi tentang hidup..